PILIH TOPIK

Tampilkan posting dengan label sistem pendidikan. Tampilkan semua posting

WAJAH BURUK PENDIDIKAN INDONESIA


WAJAH BURUK PENDIDIKAN INDONESIA




            Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Salah satu faktor yang mendukung bagi kemajuan adalah pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju atau mundur, sebab pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan. Bagi suatu bangsa yang ingin maju, pendidik harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Seperti sandang, pangan, dan papan, Namun, sangat miris rasanya melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Berbagai masalahpun timbul, mulai dari sarana yang tidak memadai, membengkaknya anak putus sekolah, kurikulum yang gonta-ganti, ketidakprofesionalan para pendidik, sampai kepribadian peserta didik yang jauh dari yang diharapkan.

Bila dilihat dari segi kualitas pendidikan kita, menurut penelitian Human Development Indeks (HDI) tahun 2004, Indonesia berada di urutan ke 111 dari 175 negara. Begitupun menurut majalah Asia Week yang melakukan penelitian terhadap Universitas terbaik di Asia, dalam majalah ini disebutkan bahwa tidak satupun Perguruan tinggi di Indonesia masuk dalam 20 terbaik.            UI berada di peringkat 61 untuk kategori universitas multidisiplin, UGM diperingkat 68, UNDIP diperingkat 77, Unair diperingkat 75, sedangkan ITB diperingkat 21 untuk universitas sains dan teknologi, kalah dibandingkan universitas nasional sains dan teknologi Pakistan. Selain itu dilihat dari kepribadian perilaku pelajar kita, tidak sedikit dari mereka yang tawuran antar sekolah atau antar perguruan tinggi, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, ataupun perilaku mereka yang sudah tergolong dalam tindak kriminal. Seperti geng motor yang kebanyakan anggotanya masih berstatus pelajar.

            Beginilah wajah buruk pendidikan kita, setidaknya bila kita cermati terdapat dua faktor  yang mempengaruhi gagalnya pendidikan yang berlaku di Indonesia. Pertama, paradigma pendidikan nasional. Kedua, mahalnya biaya pendidikan. Diakui atau tidak sistem pendidikan yang berlaku saat ini adalah sistem pendidikan yang memisahkan peranan agama dari kehidupan. Hal ini dapat terlihat antara lain pada UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Bab ke VI tentang jalur jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi “Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, keagamaan, dan khusus. Adanya pembagian pendidikan umum dan keagamaan yang terdapat pada pasal tersebut memberikan gambaran bahwasanya pendidikan kita memang dikotomi. Pendikotomian pendidikan melalui kelembagaan dapat terlihat dari pendidikan agama terdapat pada madrasah-madrasah, institut agama, dan pesantren. Dan lembaga-lembaga tersebut dikelola oleh Departemen Agama. Sementara pendidikan umum melalui Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Kejuruan, serta Perguruan Tinggi dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Sistem pendidikan seperti ini tentu saja tidak akan melahirkan peserta didik ayang memiliki kemamapuan menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi sekaligus juga memiliki kepribadian berupa perilaku yang mulia. Padahal tujuan pendidikan nasional sendiri adalah untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Saat ini mungkin tidak sedikit dari output peserta didik kita yang berhasil menguasai sains dan teknologi melalui pendidikan umum, namun tidak sedikit diantara mereka yang kurang memiliki kepribadian yang mulia. Apalagi saat ini ukuran kelulusan peserta didik hanya dinilai dari Ujian Nasional (UN) saja, artinya para peserta didik hanya ditujukan untuk menguasai materi saja tanpa nilai spiritualnya. Disisi lain, mereka yang belajar di pendidikan agama memang menguasai ilmu agama dan secara relatif memiliki kepribadian baik, tapi tidak sedikit diantara mereka yang buta terhadap perkembangan sains dan teknologi. Akhirnya, sektor-sektor modern seperti perdagangan, industri, jasa dan lain-lain diisi oleh orang yang relatif awam terhadap agama.

            Permasalahan mengenai biaya pendidikan pun ikut menambah buramnya kualitas pendidikan kita. Di zaman sekarang memang untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas baik harus menelan biaya yang tidak sedikit. Masyarakat yang kurang mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang kualitas pendidikannya bagus terpaksa hanya mendapatkan di sekolah yang terbatas sarana dan prasarananya. Di daerah-daerah banyak sekolah yang kurang berfungsi dengan baik, diantaranya kerusakan bangunan, sarana terbatas, namun dengan kondisi tersebut mereka tidak putus semangat untuk tetap terus belajar walaupun dengan fasilitas seadanya. Tidak dipungkiri bahwa tiap tahunnya, setiap jenjang pendidikan terus mengalami kenaikan biaya pendidikan, akibatnya banyak diantara mereka yang putus sekolah, atau bahkan tidak sekolah karena terhalang masalah biaya. Bagaimana mungkin tetap mencapai tujuan nasioanal yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa ?! Memperoleh pendidikan pun sulit untuk diperoleh !

            Oleh karena itu, perlu adanya penyelesaian problem pendidikan secara mendasar yaitu dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh mulai dari merubah paradigma pendidikan nasional yang memisahkan pendidikan umum dengan pendidikan agama, menjadikan peranan agama sebagai landasan dalam proses pendidikan. Pendidikan agama tidak hanya diberikan satu kali dalam seminggu tapi juga harus dijadikan dasar atau landasan bagi mata pelajaran lainnya, sehingga akan melahirkan peserta didik yang tidak hanya menguasai sains dan teknologi tapi juga memiliki akhlak yang baik. Selain itu juga untuk mengatasi komersialisasi pendidikan diperlukan peranan negara dalam hal ini pemerintah untuk melakukan upaya yang sistematis merubah paradigma pendidikan yang komersial dengan menyediakan sarana dan sarana pendidikan yang memadai, bermutu tinggi, dengan biaya yang dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat tanpa ada perbedaan berdasarkan kualitas pendidikan ditentukan oleh berapa besar biaya pendididkan yang dikeluarkan. Peran serta pemerintah ini sebenarnya sebagai bagian dari pelayanan terhadap masyarakat dalam hal mencapai tujuan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian dari perubahan tersebut akan melahirkan peserta didik yang berkualitas sehingga mampu memegang peranannya sebagai generasi penerus bangsa yang akan membawa pada kemajuan.
Lanjutkan Membaca »

[WoW] Jam Sekolah Akan Di Perpanjang Oleh Kemendiknas


Jam Sekolah akan Di Perpanjang Oleh Kemendiknas



Pemerintah berencana akan menambah jam belajar di sekolah untuk semua siswa di jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh beralasan, nilai sosial yang berubah sehingga menuntut adanya perubahan di dunia pendidikan.

"Alasannya jelas karena ada perubahan sosial. Daripada lebih banyak di luar sekolah dan tercemar hal negatif, lebih baik kita perpanjang waktu di sekolahnya," kata Nuh seusai membuka Indonesian Science Festival (ISF), di Senayan, Jakarta, Rabu (19/9/2012).

Diakui Nuh, berdasarkan hasil kaji ulang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), efektivitas pembelajaran di sekolah masih sangat kurang. "Sekarang ini, berapa lama anak anak-anak ada di sekolah, enam sampai delapan jam. Tapi untuk apa kalau efektivitasnya belum memuaskan, maka kita tambah waktu di sekolahnya," pungkas Nuh.

Untuk diketahui, rencana pemerintah untuk menambah waktu anak-anak di sekolah menuai berbagai tanggapan. Saat ini, rencana itu masih terus dimatangkan oleh Kemdikbud selaras dengan pematangan kurikulum nasional yang baru dan akan mulai berlaku di tahun ajaran 2013-2014.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listiyarti tidak sependapat dengan usulan penambahan jam sekolah tersebut. Ia menilai pemerintah keliru besar saat berencana menambah jam di sekolah.

"Wah jangan, menambah jam sekolah akan memberatkan siswa, stres," kata Retno kepada Kompas.com, Selasa (18/9) malam.

Ia mencontohkan, siswa kelas 1 SMA misalnya, saat ini dibebani sekitar 17 mata pelajaran. Rata-rata, mereka berada di sekolah selama enam sampai tujuh jam, lima hari dalam seminggu. Atau siswa di Sekolah Dasar (SD). Meski lebih luang, tapi dinilai Retno juga cukup berlebih.

Hal itu terjadi karena ada beberapa materi pelajaran yang diberikan sebelum waktunya. "Harusnya dikurangi, bukan ditambah. Misalnya anak SD, mereka belum begitu perlu belajar teknologi informasi," ungkapnya.

Pernyataan Retno bukan tanpa alasan. Ia beranggapan setiap siswa harus diberi lebih banyak waktu untuk mengembangkan kompetensi sosial. Misalnya berorganisasi, mendorong mereka berlatih berbicara untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan.

"Kalau lama di sekolah, kapan waktu mereka bersosial, berorganisasi? Menambah waktu di sekolah akan membuat anak menjadi tidak kritis," pungkas Retno.

Sependapat dengan Retno, Psikiater Prof Dr dr LK Suryani SpKj berpandangan, dewasa ini terjadi kecenderungan semakin muda usia penderita sakit kejiwaan karena anak-anak tidak siap menerima beban pelajaran di sekolah. Kesimpulan ini berdasarkan hasil penelitiannya dan kunjungan ke tempat praktiknya, sudah ada anak SD yang mengalami gangguan jiwa.

Menurut Suryani, penyebab terbesarnya karena beban pelajaran sekolah, anak-anak dituntut cepat bisa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Apalagi ditambah mereka harus belajar di sekolah hingga sore hari.

Suryani berharap para guru memahami perkembangan mental anak. Anak jangan dipaksakan belajar, tetapi hendaknya membuat siswa SD dari kelas I sampai III terangsang mempunyai semangat belajar, mau belajar dan berani berbicara.

"Di dalam mendidik, seyogianya guru jangan menganggap anak sudah tahu macam-macam sehingga tidak perlu dididik calistung. Harusnya anak-anak juga diajak menyanyi dan bercerita untuk mengekspresikan emosi," papar Suryani. (kom/brs/ts)

Lanjutkan Membaca »

[Moview-Review] Serdadu Kumbang - Sebuah potret pendidikan

[Moview-Review] Serdadu Kumbang - Sebuah Sindiran Dan Potret Pendidikan di Indonesia



Setelah hasil UNAS diumumkan, minun berkuda menuju bukit Mantar, menuju pohon harapan. Disitu tergantung begitu banyak botol-botol berisikan kertas yang bertulis cita-cita, bertulis impian.
Minun memanjat hingga tinggi berusaha menggapai botol impiannya, menggapai dan terus menggapai. Akankah Tuhan mengabulkan impiannya?


Di tengah maraknya ketidakjujuran dalam lembaga pendidikan, orang semakin mempertanyakan dan bersama-sama prihatin tentang kualitas pendidikan di negeri ini.

Ruang kelas hanyalah tempat mengajar dan bukan mendidik. Otak-otak siswa dibiarkan menyerap angka, hafalan dan logika tanpa diimbangi dengan keseimbangan moral dan kesejukan hati. Only knowledge but not life skill.

Akibatnya di negeri ini banyak orang pintar tapi tidak cerdas hati. Banyak sudah sederet panjang cacat moral yang hampir setiap hari menjadi headline di media massa. Bosan sekali rasanya..

Ari Sihasale dan Nia Zulkarnain begitu jeli dan peduli melihat fenomena ini, mereka pun konsisten memproduseri dan kadang menyutradarai sendiri film-film yang bernuansakan pendidikan. Yang paling baru adalah film yang bernama “Serdadu Kumbang”

Film ini mengisahkan seorang tokoh sentral bernama Amek (Yudi Miftahudin) , seorang anak SD berbibir sumbing yang punya cita-cita tinggi ingin menjadi penyiar berita. Hobinya adalah mendengarkan berita di TV dan “menyiarkan” nya kembali di jendela dengan frame kayu.

Ayah Amek adalah seorang TKI di Malaysia sedangkan ibunya penjual jajanan di kampung, kakaknya Minun adalah siswi SMP yang sangat cerdas.

Amek pandai sekali berhitung dan berkuda tapi sering bolos sekolah. Ia malas sekolah karena ia selalu dihukum push up dan lari keliling lapangan oleh Pak Alim (Lukman Sardi).

Bersama Amek kita diajak menjelajah 3 ruang, yang pertama cermin pendidikan di Indonesia, Yang Kedua karakter manusia yang majemuk, dan yang ketiga indahnya alam Sumbawa


Cermin pendidikan

  • Hukuman militer yang diterapkan Pak Alim tidak manusiawi, terlambat dihukum push up, sit up hingga ada yang pingsan karena kelelahan,  mendidikkah ini? Yang ada adalah Pak Alim menanamkan sifat kebencian
  • Pendidikan Alternatif : Ditunjukkan oleh Papin dan dan Bu Guru Imbok. Papin mengajarkan nilai-nilai moral dan agama dengan penuh kelembutan, anak-anak yang awalnya dianggap nakal sebenarnya mereka patuh dan taat. Bu Guru Imbok mengajarkan pendidikan untuk semua, baca tulis untuk masayarakat yang masih buta huruf, mengajar melalui cerita sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral dari yang dipelajari. Semuanya disampaikan dengan simpatik dan atraktif, walau ruang kelas hanya berada di bawah rumah panggung dengan alat tulis yang seadanya pula
  • Begitu horornya UNAS sehingga para orangtua menghalalkan segala cara termasuk mengorbankan akidah, dan begitu horornya UNAS sehingga nasib seorang anak walau pandai dan berprestasi  bisa juga gagal dalam 3 hari
"Pendidikan macam apa yang kalian cita-citakan itu hah saya tidak bangga kalau cucu saya cerdas di kepala tapi tidak cerdas di dalam hati" (Papin Haji Maesa)

Karakter yang majemuk

  • Ada bang Zakaria (Asrul Dahlan)  ayah Amek, cermin TKI yang pulang kampung, mentereng dengan emas imitasi, bercerita selama berhari-hari tentang kisah di tanah rantau, berubahnya dialek menjadi aksen Melayu.
  • Ada Papin / kakek Haji (Putu Wijaya) yang begitu kharismatik dan bijak. Amek yang punya kecerdasan aritmatik, Bu Guru Imbok (Ririn Ekawati) yang penuh dedikasi dan idealis, Kepala sekolah yang tidak tegas dan sering berbohong, Siti Aisyah (Titi Sjuman) ibu Amek yang gigih menghidupi keluarganya.

Indahnya Alam Sumbawa

  • Sumbawa memang elok dengan savanna, bukit ,pantai, dan lautnya. Masih asri dan alami. Ada 1 scene dimana Amek, Umbe dan Acan memancing di laut diatas perahu sambil beratapkan langit malam yang penuh bintang dan temaram rembulan
  • Kuda menjadi status social tersendiri bagi pemiliknya.
  • Saya pernah menyaksikan sendiri bahwa memang anak-anak banyak yang sudah mahir berkuda, menjadi joki di arena pacuan

Plus

Film ini menjadi air penyejuk di tengah jengahnya film horor dan erotism. Pas release di saat liburan sekolah, pas juga momennya di tengah isu Gadel. Idealis dan cukup konsisten keluar dari alur.
Pesan moral dari film ini
  • ·     jangan menyerah untuk mengejar cita-citamu, teruslah berusaha walau engkau dirundung keterbatasan dan kesedihan
  • ·    Pendidikan yang baik bukanlah sekadar nilai akademis akan tetapi juga nilai moral. Life Skills (keberanian, kesabaran, tidak mudah putus asa, integritas, social skills) yang membuat anak bertahan hidup dengan lebih baik, bijak dan bersahaja.

Minus

·        Kurang fokus. Sedikit melebar kemana-mana
       Adanya scene dengan Ketut memberikan pelajaran tentang hewan laut dan pelepasan penyu ke lautan lepas bersama-sama antara SD Mantar dan sekolah Elite terkesan dipaksakan. Yah memang mereka menjadi sponsor utama tapi ada upaya pencitraan sementara mereka / perusahaan asing terus mengeruk kekayaan di negeri ini dan kadang hingga mencemari lingkungan. The New VOC kata Pak Habibie

Overall merupakan tayangan yang cukup layak tonton. Semoga bisa menginspirasi
Rating versi @astu_MD : 7,2/10

Sindir Sistem Pendidikan

Zakaria, ayah dari seorang  anak yang berprestasi, dengan piala dan piagam penghargaan bertumpuk, marah meledak-ledak di pelataran sekolah SMP anaknya. Menyemprotkan amarahnya tepat di depan muka Pak Opan, sang kepala SMP tersebut. Minun, anak cerdas yang dibangga-banggakannya tak lulus Ujian Nasional (UN), pun semua teman seangkatannya, 100% tidak lulus.
Secuil kisah tersebut adalah adegan yang paling berkesan bagi saya ketika menyaksikan film Serdadu Kumbang. Selain tentu saja, banyak pesan-pesan positif lain yang sangat bermakna. Adegan tersebut memang berisi pesan klasik yang sering diungkapkan oleh para pemerhati pendidikan nasional tentang bobroknya sistem Ujian Nasional. Klasik, tapi memang sangat tepat Ari Sihasale (Ale) mengangkatnya lagi dalam filmnya ini. Perjuangan TIGA TAHUN, hasilnya ditentukan hanya dalam waktu TIGA HARI saja.
Gantungkan cita-cita setinggi langit, jangan cuma sampai di dahan-dahan pohon saja. Amek, Acan, dan Umbe dengan berbagai keterbatasan dan kelebihannya berhasil ditampilkan oleh Ale menjadi contoh yang baik bagi anak-anak bangsa ini untuk tidak pernah berhenti bercita-cita.
Sedikit kritik dari saya yang awam di dunia perfilman, Serdadu Kumbang masih seperti film Indonesia kabanyakan, yang plot dan alur ceritanya terkesan kabur dan tidak jelas. Perpindahan plot terkesan saling loncat. Pun pengenalan tokoh-tokoh dalam film yang terkesan seadanya. Sebagai contoh, tokoh yang diperankan oleh Surya Saputra (saya sampai lupa nama tokoh itu) yang awalanya saya kira memiliki bagian yang kuat dalam film ini, hanya tampil selintas saja tanpa meninggalkan pengaruh pada tema film. Mungkin ini bisa difahami, mengingat PT Newmont Nusa Tenggara (perusahaan tempat sang tokoh bekerja) turut mensponsori film ini.
Namun, pada akhirnya saya pribadi tetap memberikan dua acungan jempol bagi duet kompak Ari Sihasale dan Nia Zulkarnae yang konsisten dan memiliki komitmen yang kuat untuk berkontribusi bagi perbaikan pendidikan nasional. Paling tidak ini dibuktikan dengan karya-karya mereka yang cukup bagus, sebut saja Denias Senandung di atas Awan, Garuda di Dadaku, Liburan Seru (2008), King (2009), dan Tanah Air Beta (2010).
Semoga makin banyak sineas-sineas negeri ini yang menghasilkan karya serupa di tengah serbuan film-film horor yang sama sekali tak mendidik.






















Lanjutkan Membaca »

Post